uklik.net — Peta politik Kota Depok tak pernah benar-benar sepi dari dinamika. Di antara arus kepentingan yang saling berkelindan, nama Pradi Supriatna muncul sebagai satu di antara sedikit figur yang mampu bertahan, beradaptasi, sekaligus memperluas pengaruhnya secara perlahan namun pasti.
Ia bukan tipe politisi yang mengandalkan gebrakan sesaat. Langkahnya cenderung senyap, tetapi terukur. Dalam beberapa momentum penting, Pradi justru terlihat memainkan peran di balik layar, mengonsolidasikan kekuatan, merawat jaringan, dan memastikan mesin politik tetap bekerja tanpa banyak riuh.
https://vt.tiktok.com/ZS9RkYGNK/
Pengalaman di kursi Wakil Wali Kota Depok periode 2016–2021, mendampingi Mohammad Idris, menjadi salah satu fase krusial yang membentuk watak politiknya. Ia hadir sebagai representasi wajah pemerintah yang lebih cair, mudah dijangkau, responsif, dan kerap turun langsung ke titik-titik persoalan warga. Bagi sebagian kalangan, gaya ini menjadi kekuatan tersendiri di tengah kecenderungan birokrasi yang kaku.
Namun politik tak berhenti di satu panggung. Selepas dari eksekutif, Pradi memilih jalur legislatif arena yang menuntut kemampuan berbeda: membaca kebijakan, membangun kompromi, sekaligus menjaga daya tawar politik.
Kini, sebagai Anggota DPRD Jawa Barat periode 2024–2029 dari Fraksi Partai Gerindra, ia membawa isu-isu perkotaan Depok ke ruang yang lebih luas, di mana kepentingan daerah harus bernegosiasi dengan prioritas provinsi.
Di internal partai, perannya sebagai Ketua DPC Partai Gerindra Kota Depok menunjukkan kapasitasnya sebagai pengelola organisasi. Ia tidak hanya menjaga soliditas, tetapi juga merawat loyalitas dua hal yang kerap menjadi penentu dalam kontestasi politik lokal.
Di titik ini, lelaki yang akrab di panggil bang Haji Pradi tampak memahami bahwa politik bukan semata soal popularitas, melainkan tentang kesinambungan jaringan.
Yang menarik, Pradi tidak sepenuhnya larut dalam politik formal. Ia tetap menjejak di ruang sosial dan budaya. Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk pelestarian tradisi seperti Lebaran Depok, menjadi semacam penyeimbang bahwa politik, pada akhirnya, tetap berakar pada identitas dan kedekatan dengan warga.
Publik melihat, kekuatan Pradi terletak pada kemampuannya membaca ritme. Ia tahu kapan harus tampil ke depan, dan kapan memilih tetap di belakang layar. Dalam lanskap politik yang sering kali bising oleh manuver terbuka, pendekatan ini justru memberinya ruang untuk bergerak lebih fleksibel.
Kini, di tengah perubahan konstelasi politik Jawa Barat yang semakin kompetitif, Pradi Supriatna berdiri sebagai salah satu aktor yang tak bisa diabaikan. Ia mungkin tidak selalu menjadi yang paling lantang, tetapi jejaknya terus terasa—perlahan, rapi, dan mengendap dalam struktur kekuasaan yang ia bangun dari waktu ke waktu.
Pada akhirnya, Pradi Supriatna memperlihatkan bahwa politik tak selalu ditentukan oleh siapa yang paling bising di permukaan. Dari Kota Depok, ia merawat pengaruh lewat kerja-kerja yang nyaris tak terlihat di struktur, di jaringan, dan di momentum yang dipilih dengan cermat.
Di tengah kompetisi yang kian terbuka di Jawa Barat, langkahnya mungkin tidak selalu mencolok, tetapi justru di situlah kekuatannya: tenang, terukur, dan perlahan mengunci posisi dalam peta kekuasaan yang terus bergerak. (njas)
